Tarumanagara…

Tentang gunung Sunda dan gunung Krakatau.

140 juta tahun adalah periode kapur, bentuk batuan yang ditemukan di dataran tinggi Bandung beserta fosil laut dan batuan sedimen laut. Dari keterangan menunjukkan kompleks melange yang terdapat di karangsambung terjadi karena proses tumbukkan lempeng indo-australia dengan lempeng eurasia yang terjadi pada zaman kapur. Proses tumbukkan ini menyebabkan batuan-batuan yang semula berada di dasar samudra atau di dalam perut bumi dapat terangkat.
30 juta tahun, wilayah Bandung masih berada di dasar lautan, sementara di wilayah Jogja terjadi letusan gunung purba.
25 juta tahun, terjadi benturan sebuah busur kepulauan dengan Australia.
10 juta tahun, terjadi benturan di Papua.
5 juta tahun, wilayah Bandung menjadi permukaan bergunung dibawah permukaan laut.
2 juta tahun, wilayah Bandung terangkat ke permukaan laut berbentuk pegunungan.
560.000 tahun yang lalu adalah bentuk gunung purba untuk gunung yang dinamai gunung Jayagiri yang letusannya menbentuk kaldera yang sangat besar.
Kemudian membentuk gunung Sunda yang ketinggiannya mencapai 4000 meter yang meletus dalam tiga periode, periode pertama terjadi antara 210.000-128.000 tahun yang lalu, periode kedua terjadi antara 128.000-105.000 tahun yang lalu sebanyak 13 letusan, periode ketiga terjadi sekitar 105.000 tahun yang lalu dimana letusan itu meruntuhkan gunung dan membentuk kaldera besar, dan kemudian membentuk gunung Tangkubanparahu.
125.000 tahun, danau purba terbentuk akibat letusan gunung Sunda.
55.000 tahun, danau purba terbentuk menjadi dua bagian akibat meletusnya gunung Tangkubanparahu.
17.000 tahun, permukaan laut lebih rendah dan membentuk Sundaland sehingga bisa dilalui hewan yang bermigrasi. Akibat dari susut laut ini, akan terjadi erosi ke arah hulu sungai yang luar biasa besarnya sehingga danau purba barat menemukan celahnya dan membentuk sungai dengan deras sampai membobol danau.
16.000-3000 tahun, proses mengeringnya danau purba timur hingga berbentuk rawa dan menjadi kawasan kerbau yang kemudian menjadi ladang perburuan. Dari keterangan ini sudah jelas bahwa 3000 tahun (1000 SM) di Bandung sudah ada aktivitas berburu, tingal menarik sejarah perkembangannya antara 1000 SM hingga 1 Masehi.
Bahwa tumbuhan padi telah dikenal sejak 1000 SM, beserta itu cerita nyi pohaci sanghyang sri bermula disini.

Gunung Krakatau.
60.000 tahun yang lalu ada sebuah gunung yang jauh lebih besar yang oleh beberapa orang geolog disebut Krakatau purba yang mereka yakini setinggi 6.000 kaki dan terpusat di sebuah pulau yang nyaris bundar sempurna, dengan diameter 9 mil.
13000 tahun yang lalu adalah bentuk gunung Krakatau purba yang menjulang tinggi yang telah mengalami letusan pertama.
6600 SM terjadi letusan besar gunung Krakatau
3100 SM terjadi gelombang migrasi dari kebudayaan sekitar gunung Krakatau ke India akibat letusan gunung berapi yang memporakporandakkan peradaban setempat.
Gunung Krakatau adalah jenis gunung berapi aktif yang melegendakan terhubungnya Sumatra dan Jawa sebelum terjadinya letusan besar, dan letusan besar gunung Krakatau purba yang memisahkan Sumatra dan Jawa belum diketahui penanggalannya, dan selat Sunda sudah terbentuk sebelum peristiwa letusan besar gunung Krakatau pada tahun 416 M. Tentang kemungkinan pemisahan Pulau Jawa dan Sumatera itu akibat letusan leluhur Anak Krakatau. Kesimpulannya, letusan super (supereruption) berskala 8 dalam indeks letusan gunung api (volcanic explosivity index /VEI) sebagaimana letusan gunung api super (supervolcano) Toba di Sumatera Utara bisa sangat mungkin pernah terjadi di Krakatau.

Alkisah, daratan Jawa dan Sumatera waktu itu masih menyatu. Suatu ketika, Sri Maharaja Kanwa, yang memimpin tanah Jawa, terbawa angkara dan menikam seorang pertapa yang bernama Resi Prakampa hingga tewas. Seketika itu juga Gunung Batuwara terdengar bergemuruh. Gunung Kapi—nama lama Krakatau—mengimbanginya dengan letusan dahsyat, keluar apinya merah mengangkasa, guruh guntur, air pasang menggelora, lalu datang bencana berupa air bah dan hujan lebat. Nyala api yang merah membara tidak terpadamkan oleh air, malah semakin besar. Gunung Kapi runtuh bercerai-berai masuk ke dalam bumi. Air laut menggenangi daratan, mencapai Gunung Batuwara atau Gunung Pulosari ke timur hingga Gunung Kamula, Gunung Pangrango atau Gunung Gede, dan ke barat hingga Gunung Rajabasa di Lampung. Ketika laut telah surut kembali, Krakatau dan tanah-tanah di sekitarnya telah menjadi lautan. Di bagian barat laut dinamakan Pulau Sumatera dan di bagian timur dinamakan Jawa.

Sebelum Salakanagara ramai diperbincangkan Kerajaan Tarumanagara lebih dulu disebut sebagai kerajaan awal di tatar Sunda. Padahal berdasarkan dugaan awal, keberadaan Salakanagara jauh lebih dahulu dibandingkan Tarumanagara. Ada naskah Pangeran Wangsakerta mencatat sebuah fakta baru tentang kerajaan pertama di Nusantara, dan oleh Universitas Tarumanagara belum bisa dijadikan bukti sejarah. Belum ada situs-situs peninggalan atau prasasti yang bisa mendukung naskah Wangsakerta. Dalam naskah tersebut diceritakan bahwa ada sebuah kerajaan yang bernama Salakanagara di Pulau Jawa, yang merupakan kerajaan pertama di Nusantara.

Para penguasa Salakanagara:
Dewawarman 1 (130-168 M), bergelar Prabhu Dharmalokapala Dewawarman Aji Raksagapurasagara.

Dikisahkan sebuah rombongan perahu dari India mendarat di Jawa bagian barat untuk berniaga, membeli rempah-rempah dari penduduk pribumi untuk kemudian bisa dijual kembali di India. Tampaknya mereka bolak-balik melaksanakan perdagangan itu sehingga mereka menetap di Jawa Barat. Di tempat inilah Dewawarman diangkat sebagai pemimpin pedagang-pedagang India ini.

Tokoh awal yang berkuasa di wilayah ini adalah Aki Tirem. Dermawarman kemudian menjadi menantu Aki Tirem dengan menikahi Pwahaci Larasati. Dewawarman akhirnya mewarisi pemerintahan wilayah dan mendirikan sebuah Kerajaan Salakanagara, dengan ibukota Rajata. Saat menjadi raja Salakanagara, Dewawarman 1 dinobatkan dengan nama Prabhu Dharmalokapala Dewawarman Aji Raksagapurasagara. Istrinya bergelar Dewi Dwanirahayu. Beberapa kerajaan kecil menjadi daerah kekuasaannya, antara lain Kerajaan Agnynusa yang berada di Pulau Krakatau.

Sementara Dewawarman memerintah di Salakanagara, keluarganya yang adalah Wangsa Pallawa juga sedang memerintah di India. Hal ini mempermudah perdagangan antara kedua wilayah, yang berujung pada naiknya pemasukan Kerajaan Salakanagara dari pajak yang dikutip dalam setiap transaksi dari perahu yang mendarat. Dewawarman sendiri juga rajin berlayar dan berkirim utusan ke wilayah-wilayah lain termasuk Cina. Mungkinkah utusan ini yang dicatat di Cina tahun 132 M sebagai utusan dari Raja Tio Pien dari kerajaan Ye-Tiao yang mengirim hadiah kepada Kaisar Cina saat itu. Dewawarman kemudian menurunkan dinasti Dewawarman yang kelak akan memerintah Salakanagara sampai sekitar tahun 362 M.

Dewawarman 2 (168-195 M), bergelar Prabu Digwijayakasa Dewawarmanputra adalah putra mahkota Dewawarman 1.
Dewawarman 3 (195-238 M), bergelar Prabu Singasagara Bimayasawirya adalah putra mahkota Dewawarman 2.
Dewawarman 4 (238-252 M), adalah menantu Dewawarman 2, Raja Ujung Kulon.
Dewawarman 5 (252-276 M), adalah menantu Dewawarman 4.
Mahisa Suramardini Warmandewi (276-289 M), adalah putri tertua Dewawarman 4 dan istri Dewawarman 5. Dewawarman 5 gugur melawan bajak laut.
Dewawarman 6 (289-308 M), bergelar Sang Mokteng Samudra adalah putra mahkota Dewawarman 5.
Dewawarman 7 (308-340 M), bergelar Prabu Bima Digwijaya Satyaganapati adalah putra mahkota Dewawarman 6.
Sphatikarnawa Warmandewi (340-248 M), adalah putri sulung Dewawarman 7.

Dewawarman 8 (348-362 M), bergelar Prabu Darmawirya Dewawarman adalah cucu Dewawarman 6 yang menikahi Sphatikarnawa Warmandewi.

Di bawah pemerintahan Raja Dewawarman 8 (348-362 M), walaupun sang penguasa memeluk Agama Hindu, tapi sang raja membebaskan warganya untuk menjalankan keyakinannya. Di antara warganya ada yang menganut Hindu Siwa, Hindu Ghanayana dan Hindu Saiwa-Wisnu, mereka berdampingan secara damai dengan mayoritas penduduk asli yang masih menjalankan keyakinan tradisi. Hal ini ditandai dengan dicatatnya beberapa candi dan kuil yang berbeda-beda sesuai dengan keyakinannya masing-masing. Saat Kerajaan Tarumanagara berdiri di tahun 358 M, situasi seperti di atas juga masih terjadi. Keragaman keyakinan masih terjadi di antara penduduknya.

Ketika pusat pemerintahan beralih dari rajatapura ke Tarumanegara, maka salakanagara berubah status menjadi kerajaan daerah. Jayasingawarman pendiri Kerajaan Tarumanegara adalah menantu raja Dewawarman 8. Jayasingawarman adalah seorang maharesi dari salankayana di India yang mengungsi ke nusantara karena daerahnya diserang dan ditaklukkan maharaja samudragupta dari kerajaan magada. Dinasti Gupta berkuasa di India dari tahun 201 hingga 400 Masehi dengan Kerajaan Pallawa.

Kata tarumanagara berasal dari taruma dan nagara. Nagara artinya negara, sedangkan taruma merupakan nama dari sungai Citarum. Pada muara Citarum ditemukan percandian yang luas yaitu Percandian Batujaya dan Percandian Cibuaya yang diduga merupakan peradaban peninggalan Kerajaan Tarumanagara. Kerajaan Tarumanagara adalah sebuah kerajaan yang pernah berkuasa di wilayah pulau Jawa bagian barat yang merupakan salah satu kerajaan tertua di nusantara yang diketahui. Kerajaan Tarumanegara adalah kerajaan hindu beraliran wisnu. Kerajaan Tarumanagara didirikan oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman pada tahun 358 M.

Para penguasa Tarumanagara:
Rajadirajaguru Jayasingawarman (358-382 M).
Rajadirajaguru Jayasingawarman dipusarakan di tepi kali gomati.

Dharmayawarman (382-395 M).
Dharmayawarman dipusarakan di tepi kali Candrabaga.
Usaha memformalkan agama di Tarumanagara mulai dirintis oleh Rajarsi Dharmayawarmanghuru. Selain sebagai kepala pemerintahan, sang raja juga merangkap sebagai kepala atas seluruh Dang Acarymulaagama, atau pendeta dan guru agama Hindu di Tarumanagara. Karena penduduk asli masih banyak yang menganut kepercayaan tradisi, Sang Rajarsi membuat langkah strategis untuk memperkenalkan Hindu sebagai agama baru bagi warga kerajaannya. Didatangkanlah brahmana-brahmana dari India untuk menyebarkan dan mengajarkan Agama Hindu. Tapi ternyata, walaupun sudah gencar dilakukan, namanya keyakinan, masih ada saja warga yang tidak mau memeluknya dan lebih memilih kepercayaan aslinya. Menghadapi kenyataan seperti ini, Sang Rajarsi akhirnya menerapkan sistem baru yang cukup mengejutkan. Sistem itu adalah sistem kasta yang membagi penduduk Tarumanagara menjadi 4 golongan. Jadi dalam pemerintahan raja kedua Tarumanagara inilah Nusantara mulai mengenal sistem kasta itu.

Purnawarman (395-434 M).

Pada tahun 416 M terjadi letusan besar gunung Krakatau.
Pada tahun 1215 M terjadi letusan kecil.
Pada tahun 1680 M terjadi letusan kecil.
Pada tahun 1880 M terjadi mengeluarkan lava tetapi tidak meletus.
Pada tahun 1883 M terjadi letusan kecil.

Pada tahun 397 M Maharaja Purnawarman sebagai raja Tarumanagara memindahkan ibukotanya ke wilayah yang lebih dekat dengan pantai dan berada di daerah aliran Sungai Citarum. Dia menamainya Sundapura.
Purnawarman berhasil menundukkan musuh-musuhnya. Prasasti Munjul di Pandeglang menunjukkan bahwa wilayah kekuasaannya mencakup pula pantai Selat Sunda. Di bawah kekuasaan Purnawarman terdapat 48 raja daerah yang membentang dari Salakanagara atau Rajatapura, di daerah Teluk Lada Pandeglang sampai ke Purwalingga, sekarang Purbolinggo di Jawa Tengah. Secara tradisional Cipamali, Kali Brebes memang dianggap batas kekuasaan raja-raja penguasa Jawa Barat pada masa silam.
Ada catatan yang menarik, yang berasal dari Cina (kitab Fa Kao Chi, 414 M), yaitu berdasarkan catatan perjalanan Rahib Fa-shien. Rahib Fa-Shien sudah melakukan perjalanan ziarah agama Budha dari Cina ke India melalui jalan darat. Dalam perjalanan pulang ke Cina dia berniat melalui jalur laut, dengan rute Srilanka – Selat Sunda – Cina. Dalam pelayaran pulang ke Cina itulah ia sempat mampir sebentar di Tatar Sunda selama 6 bulan yaitu dari Desember 412 M sampai Mei 413 M, jadi kedatangannya di Tatar Sunda ini berarti saat Tarumanagara pada masa Purnawarman (395 – 434 M). Fa-Shien mencatat bahwa di Ye-Po-Ti hanya sedikit yang beragama Budha, kebanyakan adalah beragama Hindu dan beragama animisme. Jadi, duapuluh tahun sejak diterapkannya sistem Kasta di Tarumanagara masih ada penganut animisme berdampingan damai dengan Hindu dan Budha. Ada sebuah catatan dari Cina di tahun 132 M yang melaporkan bahwa ada seorang raja dari Ye-Tiao yang mengirim duta kepada Kaisar Cina untuk menyerahkan upeti atau hadiah. Dalam catatan tersebut nama Ye-Tiao dijelaskan sebagai Dewawarman. Sejarawan masih meragukan adanya seorang raja di Jawa yang bernama Dewawarman karena tidak ada catatan kuno yang menyebutkan demikian. Manakah Kerajaan pertama di Nusantara? Metodologi untuk menentukan kerajaan pertama adalah dengan menemukan situs-situs peninggalan sejarahnya lalu dianalisa kira-kira situs itu ada pada tahun berapa. Nah, dari peninggalan prasasti yang sampai saat ini sudah ditemukan, prasasti tertua adalah prasasti di Kutai yang merujuk pada Kerajaan Kutai di kalimantan Timur serta prasasti di Ciaruteun Bogor yang menunjuk pada Kerajaan Tarumanegara. Keduanya dibuat kira-kira tahun 400 M. Karena itu maka kedua kerajaan tersebut sebagai kerajaan pertama di Nusantara.

Wisnuwarman (434-455 M)
Indrawarman (455-515 M)
Candrawarman (515-535 M)

Suryawarman (535-561 M)
Suryawarman mengeluarkan keputusan untuk memberikan kembali suatu wilayah kepada raja Sunda dalam bentuk prasasti bertanggal tahun 535 M. Prasasti ini ditemukan di Pasir Muara, Bogor. Rakryan Juru Pengambat tampaknya adalah seorang pejabat tinggi Tarumanagara yang ditugaskan sebagai raja di wilayah tempat prasasti tersebut ditemukan. Berdasarkan keputusan raja, pada tahun 535 M, wilayah tersebut dikembalikan ke raja Sunda. Sementara di tahun 526 M, menantu Suryawarman, yaitu Manikmaya mendirikan Kerajaan Kendan sebagai kerajaan lokal, di daerah Nagrek yang terletak antara Bandung dan Garut.

Kertawarman (561-628 M)
Pada tahun 612 M, cicit Manikmaya yang bernama Wretikandayun mendirikan kerajaan Galuh sebagai kerajaan lokal.

Sudhawarman (628-639 M)
Hariwangsawarman (639-640 M)

Nagajayawarman (640-666 M)
656-661 M, perjalanan pangeran Borosngora dari Panjalu ke tanah Arab dan bertemu dengan sayidina Ali ra. Pangeran Borosngora dikenal dengan Kiansantang.

Sri Maharaja Linggawarman Atmahariwangsa Panunggalan Tirthabumi (666-669 M)
Ketika itu raja Linggawarman mempunyai 2 putri. Putri pertama bernama Manasih, menikah dengan Tarusbawa dari Kerajaan Sunda. Putri kedua bernama Sobakancana, menikah dengan Sang Daponta Hyang Sri Jayanasa yang dikenal sebagai pendiri Kerajaan Sriwijaya. Saat Tarusbawa mendapat mandat untuk menggantikan mertuanya, dia bermaksud untuk mengembalikan pamor Tarumanagara yang semakin menurun itu. Tampaknya ia mengembalikan ibukota ke Sundapura dan karenanya pada tahun 670 M ia mengganti nama Tarumanagara menjadi Sunda. Menanggapi hal ini Wretikandayun, pendiri Kerajaan Galuh menyatakan ketidaksetujuannya. Saat itu Wretikandayun berbesan dengan Maharani Shima dari Kerajaan Kalingga, putra mahkotanya menikah dengan Parwati , putri Maharani Shima. Karena merasa mendapatkan sekutu dari kerajaan Kalingga, Wretikandayun meminta Tarusbawa memecah wilayah Tarumanagara menjadi dua, yaitu Kerajaan Sunda di bagian barat dan Kerajaan Galuh di bagian timur, sebagai pemisahnya adalah Sungai Citarum.

Para penguasa Kerajaan Kendan:
Resiguru Manikmaya (526-568 M)
Sang Suralim Baladhika ning widyabal (568-597 M)
Resiguru Kandiawan (597-612 M), bergelar Rahiyangta ri Medangjati.
Wretikandayun (612-669 M)
Kerajaan Kendan berganti nama menjadi Kerajaan Galuh yang berpusat di Ciamis. Kelak Kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda dipersatukan oleh Sri Baduga Maharaja menjadi Kerajaan Pakuan Pajajaran pada 1482 M hingga 1579 M.

Para penguasa Kerajaan Sunda:
Tarusbawa (669-723 M), adalah menantu Linggawarman.
Tarusbawa adalah pendiri Kerajaan Sunda pada 18 Mei 669 M, yang berbatasan dengan kerajaan Galuh dengan Sungai Citarum sebagai batasnya. Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh sebelumnya adalah wilayah Kerajaan Tarumanagara. Ketika Tarusbawa menjadi Raja Tarumanagara, Status kerajaan dirubah menjadi Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh memisahkan diri.
Raja Tarusbawa mengganti nama Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda, dan memecah wilayah Tarumanagara menjadi Sunda dan Galuh. Tarusbawa memerintah Sunda sampai tahun 723 M. Kerajaan Sunda dipimpin oleh 40 raja pada 669-1579 M dimulai dari Tarusbawa sampai Prabu Surya Kencana.

Rakeyan Jamri (723-732 M), bergelar Prabu Harisdarma, setelah menguasai Galuh dikenal dengan nama Sanjaya. Kemudian mewarisi Kerajaan Kalingga.
Tarusbawa adalah sahabat baik Rahyang Sena, ayah Sanjaya. Persahabatan ini pula yang mendorong Tarusbawa mengambil Sanjaya menjadi menantunya dan Sanjaya menjadi Raja atas nama istrinya.

Tamperan Barmawijaya (732-739 M), adalah putra Sanjaya.
Menguasai Sunda-Galuh. Kerajaan Galuh sebagai bawahan.

Rakeyan Banga (739-766 M) bergelar Prabu Kretabuana Yasawiguna Aji Mulya, adalah putra Tamperan Barmawijaya.
Banga menjadi raja bawahan Kerajaan Galuh, dan menerimanya karena tidak dibinasakan. Banga berupaya melepaskan diri dari Kerajaan Galuh selama 20 tahun sehingga menjadi penguasa yang diakui di sebelah barat Citarum dan lepas dari kedudukan sebagi raja bawahan Galuh.

Rakeyan Medang (766-783 M), bergelar Prabu Hulukujang adalah putra Rakeyan Banga.
Rakryan Hujungkulon (783-795 M), bergelar Prabu Gilingwesi adalah menantu Prabu Hulukujang.
Rakryan Diwus (795-819 M), bergelar Prabu Pucukbhumi Dharmeswara adalah menantu Prabu Gilingwesi.

Rakeyan Wuwus (819-891 M), bergelar Prabu Gajah Kulon adalah putra Rakryan Diwus.
Dari Rakeyan Wuwus Kerajaan Sunda pindah ke Galuh.
Penerus raja Galuh diteruskan oleh keturunan Rakeyan Wuwus dan melanjutkan dua kerajaan. Galuh sebagai pusat dan menempatkan raja perwakilan di Sunda.

Prabu Detya Maharaja Sri Jayabupati (1030-1042 M) berkedudukan di Pakuan.
Kerajaan Pajajaran didirikan tahun 925 M, oleh Prabu Detya Maharaja Sri Jayabupati berdasarkan Prasasti Sanghiang Tapak.
Mengenai urutan raja-raja Kerajaan Pajajaran, terdapat perbedaan antara naskah-naskah Babad Pajajaran, Carita Parahiangan, dan Carita Waruga Guru.
Tiap Raja Sunda yang baru selalu memperhitungkan tempat kedudukan yang akan dipilihnya menjadi pusat pemerintahan. Dengan demikian, pusat pemerintahan itu berpindah-pindah dari barat ke timur dan sebaliknya. Antara tahun 895 sampai tahun 1311 kawasan Jawa Barat diramaikan sewaktu-waktu oleh iring-iringan rombongan raja baru yang pindah tempat.
Hal itu dikarenakan perkawinan antara dua kerajaan dimasa awal sehingga mendapatkan pewaris Galuh adalah keturunan Sunda dan sebaliknya. Dan juga momentum sejarah seperti pada kisah Ciung Wanara.

Prabhu Guru Dharmasiksa (1175-1297 M), adalah putra Prabhu Dharmakusuma.
Dharmasiksa memimpin Sunda-Galuh dari Saunggalah selama 12 tahun, tapi kemudian memindahkan pusat pemerintahan kepada Pakuan Pajajaran.
Menurut Pustaka Rajya Rajya I Bhumi Nusantara, Prabu Guru Darmasiksa melahirkan Rakeyan Jayadarma sebagai putra mahkota, tetapi tewas sebelum memerintah. Rakeyan Jayadarma melahirkan Raden Wijaya dari Dyah Lembu Tal, putri dari Mahisa Campaka, putri Mahisa Wonga Teleng, putra Ken Arok, pendiri Kerajaan Singosari.

Prabu Susuktunggal (1475-1482 M)

Prabu Maharaja Linggabuanawisésa (1350-1357 M), adalah putra Prabu Ragamulya Luhurprabawa, berkedudukan di Galuh yang gugur di perang Bubat.
Patih Mangkubumi Sang Prabu Bunisora (1357-1371 M), adalah Sang Patih sebagai pemegang kekuasaan sementara karena pewaris tahta berusia masih kecil.

Niskalawastukancana (1371-1475 M), adalah putra mahkota Sunda-Galuh, berkedudukan di Galuh.
Dari isteri pertama, Nay Ratna Sarkati, ia mempunyai putera Sang Haliwungan bergelar Prabu Susuktunggal, yang diberi kekuasaan bawahan di daerah sebelah barat Citarum. Prabu Susuktunggal yang berkuasa dari Pakuan Pajajaran, membangun pusat pemerintahan ini dengan mendirikan keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati. Pemerintahannya terbilang lama (1382-1482 M), sebab sudah dimulai saat ayahnya masih berkuasa di Galuh.
Saat Niskalawastukancana wafat, kerajaan sempat terpecah menjadi dua yaitu di Pakuan dan di Kawali, dan dipersatukan kembali oleh Jayadewata dan merubah nama menjadi Kerajaan Pajajaran.

Jayadewata, bergelar Prabu Guru Dewapranata di tahta Galuh (1428 M), dan bergelar Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di tahta Sunda (1482-1521 M), keraton Galuh dipindahkan ke Pajajaran dan merubah nama menjadi Kerajaan Pakuan Pajajaran.

Beralih ke riwayat Kerajaan Pajajaran.
Prabu Surawisesa (1521-1535 M)
Prabu Dewatabuanawisesa (1535-1543 M)
Prabu Sakti (1543-1551 M)
Prabu Nilakendra (1551-1567 M)

Prabu Surya Kencana (1567-1579 M)
Sebelum Kerajaan Pajajaran runtuh Prabu Surya Kancana memerintahkan ke empat patihnya untuk membawa mahkota kerajaan beserta anggota kerajaan ke Sumedang Larang yang sama- sama merupakan keturunan Kerajaan Sunda untuk meneruskan pemerintahan.
Prabu Gesan Ulun mewarisi tahta Sunda-Galuh yang terakhir.
Walaupun pada waktu itu tempat penobatan raja direbut oleh pasukan Banten tetapi mahkota kerajaan terselamatkan. Dengan diberikannya mahkota tersebut kepada Prabu Geusan Ulun, maka dapat dianggap bahwa Kerajaan Pajajaran Galuh Pakuan menjadi bagian Kerajaan Sumedang Larang.

Kesultanan Banten tidak menerima dengan pengangkatan Prabu Geusan Ulun sebagai pewaris tahta Sunda-Galuh sehingga menyerang Kerajaan Pajajaran. Dan Kesultanan Cirebon berpihak pada Kesultanan Banten.
Kerajaan Sunda-Galuh, Pajajaran runtuh pada 1579 M akibat serangan bala tentara Maulana Yusuf, yaitu Kesultanan Banten. Maulana Yusuf adalah penerus Kerajaan Sunda yang sah karena buyut perempuannya adalah putri Sri Baduga Maharaja.

Para penguasa Kerajaan Galuh:
Wretikandayun (669-702 M)
Mewarisi Kendan dan Galuh Kalingga dan mendirikan kerajaan baru di Kawali.
Putra Wretikandayun adalah Batara Danghyang Gurusempakwaja, Resi Guru Jantaka, dan Mandiminyak.

Mandiminyak (702-709 M), adalah putra bungsu Wretikandayun.
Rahyang Sena, atau Rahyang Bratasenawa (709-716 M), adalah putra Mandiminyak. Sena dikudeta oleh Purbasora. Purbasora dan Sena adalah saudara satu ibu lain ayah.

Rahyang Purbasora (716-723 M),adalah putra Batara Danghyang Gurusempakwaja, pendiri kerajaan Galunggung. Batara Danghyang Gurusempakwaja adalah putra Wretikandayun.
Rahyang Purbasora mengambil tahta Galuh dibantu dari mertuanya sebagai raja di Kerajaan daerah Cirebon.

Rakeyan Jamri (723-732 M), adalah putra Rahyang Sena, setelah menguasai Galuh dikenal dengan nama Sanjaya.
Kerajaan Sunda jatuh ke Raja Sanjaya dan berhasil merebut kekuasaan Kerajaan Galuh dari Rahyang Purbasora, dan selanjutnya menjadi raja di Kalingga. Sanjaya meninggalkan tahta Sunda-Galuh, dan membagi kekuasaannya menjadi tiga wilayah Kerajaan, yaitu: Kerajaan Sunda diserahkan kepada Tamperan Barmawijaya atau Rakeyan Panaraban putranya dari Tejakencana yang kemudian diangkat sebagai patih Galuh, Kerajaan Galuh diserahkan kepada Adimulya Premana Dikusuma, dan Kerajaan Saunggalah diserahkan kepada Resiguru Demunawan yaitu adik Rahyang Purbasora.

Adimulya Premana Dikusuma (726-732 M), diangkat menjadi raja oleh Sanjaya untuk memimpin pemerintahan di Galuh. Dan mengangkat Tamperan sebagai patih Galuh.
Premana Dikusuma adalah cucu Purbasora keturunan Sempakwaja. Istri Premana Dikusuma adalah Naganingrum, cucu Ki Balangantrang bin Jantaka bin Wretikandayun. Ki Balangantrang bernama Bimaraksa adalah menantu Purbasora dan berperan sebagai patih Galuh dimasa Purbasora.
Premana dan Naganingrum memiliki putera bernama Surotama atau Manarah yang lahir 718 M, jadi ia baru berusia 5 tahun ketika Sanjaya menyerang Galuh. Surotama atau Manarah dikenal dalam literatur Sunda klasik sebagai Ciung Wanara. Kelak di kemudian hari, Ki Bimaraksa atau Ki Balangantrang, buyut dari ibunya, yang akan mengurai kisah yang menimpa keluarga leluhurnya dan sekaligus menyiapkan Manarah untuk melakukan pembalasan.

Tamperan (732-739 M)
Tahun 732 M Sanjaya mewarisi tahta Kerajaan Medang. Sebelum meninggalkan Kerajaan Sunga, ia mengatur pembagian kekuasaan antara Tamperan dan Resiguru Demunawan. Sunda dan Galuh menjadi kekuasaan Tamperan, sedangkan Kerajaan Kuningan dan Galunggung diperintah oleh Resiguru Demunawan, putera bungsu Sempakwaja.

Manarah (739-783 M), bergelar Prabu Jayaprakosa Mandaleswara Salakabuana.
Penyerbuan ke Galuh dilakukan siang hari bertepatan dengan pesta sabung ayam. Semua pembesar kerajaan hadir, termasuk Banga. Kudeta berhasil dalam waktu singkat seperti ketika Sanjaya berhasil menguasai Galuh dalam waktu satu malam.

Raja dan permaisuri Pangrenyep termasuk Banga dapat ditawan. Banga kemudian dibiarkan bebas. Pada malam harinya ia berhasil membebaskan Tamperan dan Pangrenyep dari tahanan. Hal itu diketahui oleh Manarah kemudian berperang dengan Banga, Tamperan dan Pangrenyep tewas.
Berita kematian Tamperan didengar oleh Sanjaya, kemudian dengan pasukan besar menyerang Galuh. Perang besar sesama keturunan Wretikandayun itu akhirnya bisa dilerai oleh Rajaresi Demunawan (lahir 646 M, ketika itu berusia 93 tahun). Dalam perundingan di keraton Galuh dicapai kesepakatan, Galuh diserahkan kepada Manarah dan Sunda kepada Banga, lewat perjanjian Galuh tahun 739 M menetapkan Kerajaan Sunda sebagai bawahan Kerajaan Galuh.

Guruminda Sang Ministri (783-799 M), adalah menantu Manara/Wanara.
Prabu Kretayasa Dewakusalesywara Sang Triwulan (799-806 M), adalah putra Manara/Wanara.
Sang Wulungan (806-813 M), adalah cucu Manara/Wanara.
Prabulinggabumi (813-852 M), adalah cicit Manara/Wanara.

Rakeyan Wuwus (852-891 M), bergelar Prabu Gajah Kulon, adalah cicit Banga dan juga sebagai raja Sunda ke-8. Rakeyan Wuwus menjadi raja Galuh atas nama istrinya, adik Prabulinggabumi.
Kekuasaan Sunda-Galuh dipegang oleh Rakeyan Wuwus sampai wafat.

Arya Kadatwan (891-895 M), bergelar Prabu Darmaraksa adalah adik ipar Rakryan Wuwus, menguasai Sunda dan Galuh.

Rakryan Windusakti (895-913 M), bergelar Prabu Dewageng adalah anak Rakryan Wuwus, menguasai Sunda dan Galuh.

Rakryan Kamuninggading (913-916 M), bergelar Prabu Pucukwesi adalah kakaknya Rakryan Windusakti, berkedudukan di Galuh menguasai Sunda dan Galuh.

Rakyan Jayagiri (916-942 M), bergelar Prabu Wanayasa.
Rakryan Jayagiri merebut kekuasaan dari kakaknya, menguasai Sunda-Galuh berkedudukan di Galuh.

Rakryan Watuagung (942-954 M), bergelar Prabu Resi Atmayadarma Hariwangsa adalah menantu Rakryan Jayagiri.
Sang Limburkancana (954-964 M), adalah putra Kamuninggading.
Sang Limburkancana merebut kekuasaan dari pamannya Rakryan Watuagung.

Rakryan Sundasambawa (964-973 M), bergelar Prabu Munding Gunawirya adalah putra Sang Limburkancana.
Rakryan Wulung Gadung (973-989 M), bergelar Prabu Jayagiri adalah adik ipar Rakryan Sunda Sambawa.
Rakryan Gendang (989-1012 M), bergelar Prabu Brajawisesa adalah putra Rakryan Jayagiri.
Prabu Dewa Sanghyang (1012-1019 M), adalah putra Rakryan Gendang.
Prabu Sanghiang Ageng (1019-1030 M), adalah putra Dewa Sanghiang berkedudukan di Galuh.

Prabu Detya Maharaja Sri Jayabupati (1030-1042 M) berkedudukan di Pakuan.

Dharmaraja (1042-1064 M), Sang Mokteng Winduraja adalah putra Prabu Detya Maharaja Sri Jayabupati.
Prabu Langlangbhumi ((1064-1154 M), Sang Mokteng Kerta adalah putra Dharmaraja.
Rakryan Jayagiri (1154-1156 M), bergelar Prabu menakluhur adalah putra Prabu Langlangbhumi.
Prabhu Dharmakusuma (1156-1175 M), Sang Mokteng Winduraja adalah putra Rakryan Jayagiri.

Prabhu Guru Dharmasiksa (1175-1297 M), adalah putra Prabhu Dharmakusuma.
Dharmasiksa memimpin Sunda-Galuh dari Saunggalah selama 12 tahun, tapi kemudian memindahkan pusat pemerintahan kepada Pakuan Pajajaran.
Menurut Pustaka Rajya Rajya I Bhumi Nusantara, Prabu Guru Darmasiksa melahirkan Rakeyan Jayadarma sebagai putra mahkota, tetapi tewas sebelum memerintah. Rakeyan Jayadarma melahirkan Raden Wijaya dari Dyah Lembu Tal, putri dari Mahisa Campaka, putri Mahisa Wonga Teleng, putra Ken Arok, pendiri Kerajaan Singosari.

Rakryan Saunggalah (1297-1303 M), bergelar Prabhu Ragasuci adalah putra Prabhu Guru Dharmasiksa, berkedudukan di Saunggalah.
Prabhu Citraganda (1303-1311 M), adalah putra Rakryan Saunggalah, berkedudukan di Pakuan.
Prabu Linggadewata (1311-1333 M), adalah putra Prabu Citragada, berkedudukan di Kawali.
Prabu Ajiguna Linggawisésa (1333-1340 M), adalah menantu Prabu Linggadewata, berkedudukan di Kawali.
Prabu Ragamulya Luhurprabawa (1340-1350 M)
Prabu Maharaja Lingga Buana (1350-1357 M) berkedudukan di Galuh, yang gugur di perang bubat.
Mangkubumi Suradipati, Prabu Bunisora (1357-1371 M)

Niskalawastukancana (1371-1475 M)
Dari isteri pertama, Nay Ratna Sarkati, ia mempunyai putera Sang Haliwungan bergelar Prabu Susuktunggal, yang diberi kekuasaan bawahan di daerah sebelah barat Citarum. Prabu Susuktunggal yang berkuasa dari Pakuan Pajajaran, membangun pusat pemerintahan ini dengan mendirikan keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati. Pemerintahannya terbilang lama (1382-1482 M), sebab sudah dimulai saat ayahnya masih berkuasa di Galuh.
Dari Nay Ratna Mayangsari, istrinya yang kedua, ia mempunyai putera Ningratkancana (Prabu Déwaniskala), yang meneruskan kekuasaan ayahnya di Galuh (1475-1482 M).
Saat Niskalawastukancana wafat, kerajaan sempat terpecah menjadi dua yaitu di Pakuan dan di Kawali.

Prabu Dewa Niskala (1475-1482 M)
Jayadewata, bergelar Prabu Guru Dewapranata di tahta Galuh (1482 M), dan bergelar Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di tahta Sunda (1482-1521 M), keraton Galuh di Kawali dipindahkan ke Pakuan.
Beralih ke riwayat Kerajaan Pajajaran.

Pembagian wilayah Galuh adalah sebagai berikut:
Galuh Pajajaran, beribukota di Bogor.
Galuh Pakuan, beribukota di Kawali.
Galuh Sindula, berlokasi di Lakbok dan beribukota di Medang Gili.
Galuh Rahyang, berlokasi di Brebes dan beribukota di Medang Pangramesan.
Galuh Kalangan, berlokasi di Roban dan beribukota di Medang Pangramesan.
Galuh Lelean, berlokasi di Cilacap dan beribukota di Medang Kamulang.
Galuh Pataruman, berlokasi di Banjarsari dan beribukota di Banjar Pataruman.
Galuh Kalingga, berlokasi di Bojong dan beribukota di Karangkamulyan.
Galuh Tanduran, berlokasi di Pananjung dan beribukota di Bagolo.
Galuh Kumara, berlokasi di Tegal dan beribukota di Medang Kamulyan.
Galuh Pataka, berlokasi di Nanggalacah dan beribukota di Pataka.
Galuh Nagara Tengah, berlokasi di Cineam dan beribukota di Bojonglopang.
Galuh Imbanagara, berlokasi di Barunay, Pabuaran dan beribukota di Imbanagara.
Galuh Kalingga, berlokasi di Bojong dan beribukota di Karangkamulyan.

Para penguasa Kesultanan Banten:
Sunan Gunung Jati
Maulana Hasanuddin (1526-1570 M)
Maulana Yusuf (1570-1585 M), melakukan ekspansi dengan menaklukkan Kerajaan Sunda Pakuan Pajajaran pada 1579 M.
Sultan Maulana Muhammad Nashruddin (1585-1596 M)
Sultan Abu al-Mufakhir Mahmud Abdulkadir (1596-1630 M)
Sultan Abdul Ma’ali Ahmad (1630-1651 M)
Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1683 M), terjadi sengketa antara kedua putranya, Sultan Haji dan Pangeran Purbaya.
Sultan Haji, Sultan Abu Nashar Abdul Qahar (1683-1687 M)
Sultan Abu Fadhl Muhammad Yahya (1687-1690 M)
Sultan Abul Mahasin Muhammad Zainul Abidin (1690-1695 M)
Sultan Abul Fathi Muhammad Syifa Zainul Arifin 1695-… M)
Sultan Abul Nashar Muhammad Ishaq Zainulmutaqin
Sultan Muhammad Huhyiddin Zainussalihin
Sultan Ishak (1803-1808 M)
Sultan Muhammad Syafiuddin bin Muhammad Muhyiddin Zainussalahin (1808-1813 M)
22 Nopember 1808, Daendels mengumumkan bahwa wilayah Kesultanan Banten telah diserap kedalam wilayah Hindia Belanda.
Kesultanan Banten resmi dihapuskan tahun 1813 oleh pemerintah kolonial Inggris.

Para penguasa Kesultanan Cirebon:
Pangeran Cakrabuana (1445-1479 M)
Pangeran Cakrabuana adalah putra Prabu Siliwani, Sri Baduga Maharaja, berkedudukan sebagai putra Mahkota Kerajaan Pajajaran yang bernama Pangeran Walang Sungsan, yang lebih dikenal sebagai pangeran Cakrabuana dan Mbah Kuwu. Dan adiknya adalah Pangeran Kian Santang (yang masa ini) dan Nyi Rara Santang. Ketika Prabu Siliwangi turun tahta, Pangeran Cakrabuana tidak mendapatkan haknya sebagai putra mahkota Pajajaran karena beragama islam mengikuti ibunya, Nyi Subang Larang yang berasal dari keluarga muslim. Putra mahkota jatuh ke saudara seayah lain ibu, yaitu Prabu Surawisesa. Pangeran Cakrabuana mendirikan istana Pakungwati pada 1430 M dan membentuk pemerintahan di Cirebon. Mendengar hal itu Prabu Siliwangi mengutus Tumenggung Jayabaya untuk menetapkan Pangeran Cakrabuana dengan keprabuan dan memberi tanda kekuasaan untuk memerintah kerajaan lokal.

Sunan Gunung Jati (1479-1568 M)
Pada tahun 1479 M, Pangeran Cakrabuana menikahkan anaknya Nyi Pakung Wati dengan Syekh Syarief Hidayatullah, yang lebih dikenal sebagai Sunan Gunung Jati. Disaat bersamaan, Pangeran Cakrabuana menyerahkan kekuasaan pada Sunan Gunung Jati.
Sunan Gunung Jati adalah putra dari Nyi Rara Santang.
Pangeran Adipati Pasarean (Pangeran Muhammad Arifin), dikisahkan Sunan Gunung Jati menyerahkan Kekuasaan kepada Pangeran Adipati Pasarean pada tahun 1506 M.
Ratu Ayu Pakung Wati meninggal pada tahun 1548 M.

Fatahillah (1568-1570 M)
Fatahillah sebagai pejabat keraton melanjutkan pemerintahan karena Sunan Gunung Jati melaksanakan tugas dakwah. berkuasa 2 tahun hingga meninggal pada 1570 M.

Panembahan Ratu 1 (1570-1649 M).
Pangeran Mas Zainul Arifin adalah putra tertua Pangeran Dipati Carbon 1 (Pangeran Seda Kemuning), bergelar Panembahan Ratu 1 atau Panembahan Ratu Pakungwati 1.

Panembahan Ratu 2 (1649-1677 M).
Pangeran Rasmi adalah putra Panembahan Adiningkusumah (Pangeran Sedang Gayam, bergelar Pangeran Dipati Carbon 2), cucu panembahan Ratu 1, bergelar Panembahan Girilaya dan Panembahan Ratu 2 atau Panembahan Ratu Pakungwati 2.

Terpecahnya Kesultanan Cirebon.
Sultan Ageng Tirtayasa, dari Kesultanan Banten, menobatkan ketiga putra Panembahan Girilaya pada tahun 1677 M. Ada pun keterangan lain Panembahan Girilaya membagi kekuasaan pada ketiga putranya.

Kesultanan Keraton Kasepuhan Cirebon:
Sultan Sepuh 1 (1677-1703 M).
Pangeran Martawijaya adalah putra pertama Panembahan Girilaya, bergelar Sultan Sepuh Abil Makarimi Muhammad Samsudin.

Sultan Sepuh 2 (1703-… M) Pangeran Djamaludin
Sultan Sepuh 3, Pangeran Djaenudin Amir Sena I
Sultan Sepuh 4, Pangeran Djaenudin Amir Sena II
Sultan Sepuh 5, Pangeran Sjafiudin/Sultan Matangadji
Sultan Sepuh 6, Pangeran Hasanuddin
Sultan Sepuh 7, Pangeran Djoharudin
Sultan Sepuh 8, Pangeran Radja Udaka
Sultan Sepuh 9, Pangeran Radja Sulaeman
Sultan Sepuh 10, Pangeran Radja Atmadja
Sultan Sepuh 11, Pangeran Radja Aluda Tajul Arifin
Sultan Sepuh 12, Pangeran Radja Radjaningrat
Sultan Sepuh 13, Pangeran DR.H. Maulana Pakuningrat SH.

Sultan Sepuh 14 (…-sekarang).
Hingga saat ini diteruskan oleh Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat SE.

Kesultanan Keraton Kanoman Cirebon:
Sultan Kanoman 1 (1677-1723 M).
Pangeran Kartawijaya adalah putra kedua Panembahan Girilaya, bergelar Sultan Anom Abil Makarimi Muhammad Badrudin.

Sultan Kanoman 2 (1723-… M) Sultan Muhammad Chadirudin
Sultan Kanoman 3 (…-1798 M) Sultan Muhammad Alimudin
Sultan Kanoman 4 (1798-1803 M) Sultan Muhammad Chaeruddin
Sultan Kanoman 5 (1803-1811 M) Sultan Muhammad Imammudin
Sultan Kanoman 6 (1811-… M) Sultan Muhammad Kamaroedin 1
Sultan Kanoman 7, Sultan Muhamamad Kamaroedin 2
Sultan Kanoman 8, Sultan Muhamamad Dulkarnaen
Sultan Kanoman 9, Sultan Muhamamad Nurbuat
Sultan Kanoman 10, Sultan Muhamamad Nurus
Sultan Kanoman 11, Sultan Muhamamad Jalalludin

Sultan Kanoman 12 (2003-sekarang).
Hingga saat ini diteruskan oleh Sultan Muhammad Emiruddin.

Panembahan Cirebon
Pangeran Wangsakerta adalah putra ketiga panembahan Girilaya, dinobatkan sebagai Panembahan Cirebon dengan gelar Pangeran Abdul Kamil Muhammad Nasarudin, Panembahan Agung Gusti Carbon, Pangeran Arya Carbon dan Panembahan Tohpati (1677-1713 M). Menurut keterangan, Pangeran Wangsakerta tidak diangkat menjadi sultan, hanya penguasa wilayah Panembahan Cirebon, beliau mendalami ilmu dan sebagai pemuka agama. Sedangkan kedua Kakaknya diangkat menjadi Sultan oleh Sultan Ageng Tirtayasa, menggantikan gelar Panembahan.

Periode 1613-1645 M adalah masa penguasaan Mataram, karena Sultan Agung penguasa Mataram berkoalisi dengan Kesultanan Banten Dan Cirebon untuk melawan VOC, yang berdampak bergabungnya Kerajaan Sumedang Larang.

Masa pemerintahan VOC, Inggris, Hindia Belanda, dan Jepang

Masa Republik Indonesia
Pada masa kemerdekaan, wilayah Kesultanan Cirebon menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kerajaan Sumedang Larang
Merupakan pecahan Kerajaan Sunda-Galuh yang didirikan oleh Prabu Aji Putih atas perintah Prabu Suryadewata.
Para Penguasa Kerajaan Sumedang Larang:
Prabu Aji Putih (900 M)
Prabu Agung Wesi Cakrabuana, Prabu Taji Malela (950 M)
Prabu Gajah Agung (980 M)
Sunan Guling (1000 M)
Sunan Tuakan (1200 M)
Nyi Mas Ratu Patuakan (1450 M)
Ratu Pucuk Umun, Nyi Mas Ratu Dewi Inten Dewata (1530-1578 M)

Prabu Gesan Ulun, Pangeran Angkawijaya (1578-1601 M)
Prabu Gesan Ulun mewarisi tahta Sunda-Galuh yang terakhir.
Pada masa itu Kesultanan Mataram sedang pada masa kejayaannya, dengan tujuan politik pula akhirnya Prabu Geusan Ulun menyatakan bergabung dengan Kesultanan Mataram. Prabu Geusan Ulun merupakan raja terakhir Kerajaan Sumedang Larang, karena selanjutnya menjadi bagian Mataram dan pangkat raja turun menjadi adipati.

Masa pemerintahan Mataram
R. Suriadiwangsa, Pangeran Rangga Gempol 1 (1601-1625 M)
Pangeran Rangga Gede (1625-1633 M)
Pangeran Rangga Gempol 2 (1633-1656 M)
Pangeran Panembahan, Pangeran Rawa Gempol 3 (1656-1706 M)

Masa pemerintahan VOC, Inggris, Hindia Belanda, dan Jepang
Dalem Tumenggung Tanumaja (1706-1709 M)
Pangeran Karuhun (1709-1744 M)
Dalem Istri Rajaningrat (1744-1759 M)
Dalem Anom (1759-1761 M)
Dalem Adipati Surianagara (1761-1765 M)
Dalem Adipati Surialaga (1765-1773 M)
Dalem Adipati Tanubaja (1773-1775 M)
Dalem Adipati Patrakusumah (1775-1789 M)
Dalem Aria Sacapati (1789-1791 M)
Pangeran Kornel, Pangeran Kusumahdinata (1791-1800 M)
Bupati Republik Batavia Nederland (1800-1805 M)
Bupati Kerajaan Nederland, dibawah Lodewijk, adik Napoleon Bonaparte (1805-1810 M)
Bupati Kerajaan Nederland, dibawah Napoleon Bonaparte (1810-1811 M)
Bupati masa Pemerintahan Inggris (1811-1815 M)
Bupati Kerajaan Nederland (1815-1828 M)
Dalem Adipati Kusumahyuda, Dalem Ageung (1828-1833 M)
Dalem Adipati Kusumahdinata, Dalem Alit (1833-1834 M)
Dalem Tumenggung Suriadilaga (1834-1836 M)
Pangeran Sutia Kusumah Adinata (1836-1882 M)
Pangeran Aria Suria Atmaja (1882-1919 M)
Dalem Adipati Aria Kusumahdilaga (1919-1937 M)
Dalem Tumenggung Aria Suria Kusumah Adinata (1937-1942 M)
Bupati masa pendudukan Jepang (1942-1945 M)
Bahasan diakhiri sampai proklasi kemerdekaan RI.

Karawang
Bila ditinjau dari sejarahnya berkaitan dengan pusat peradaban Kerajaan Tarumanagara dengan ditemukannya situs Candi Blandongan yang digunakan dari abad ke-2 hingga abad ke-12. Situs Candi Jiwa yang menunjukkan abad ke-4 dimasa kejayaan Tarumanagara dengan jarak 100 m dari Candi Blandongan.

Karawang memiliki sejarah terkait penyebaran Islam di pesisir utara. berdasarkan catatan sejarah, pendakwah yang pertama kali menyiarkan agama Islam di Karawang adalah Syekh Hadanudin bin Yusuf Idofi, yang dikenal dengan Sekh Quro yang kemudian dilanjutkan oleh Wali Songo.

Situs Kuta Tandingan diperkirakan merupakan meninggalan Kerajaan kecil dalam Kekuasaan Kerajaan Pajajaran, yang bernama Kerajaan Kuta Tandingan Jaya yang diperintah oleh Patih Panatayuda, dibantu oleh Patih Purnakuta dan Patih Mangkubumi dengan penasehat Pamanah Rasa dan Jaksa Imbang kencana.
Menjelang keruntuhan Pajajaran, Kerajaan Kuta Tandingan Jaya melepaskan diri dari atau diambil alih oleh tentara Syekh Maulana Yusuf pada 1626 M.
Sunan Gunung Jati membagi Karawang menjadi dua bagian, sebelah barat menjadi wilayah Kesultanan Banten dan sebelah timur menjadi wilayah Kesultanan Cirebon.

Dalam sejarahnya Karawang pernah menjadi bagian dari wilayah Kesultanan Mataram.
Para Adipati Karawang masa pemerintahan Mataram.
Pendudukan oleh Wiraperbangsa dari Sumedang Larang tahun 1632 M, bergelar Adipati Kertabumi 3.
Raden Adipati Singaperbangsa (14 September 1633-1677 M). bergelar Adipati Kertabumi 4.
Raden Anom Wirasuta (1677-1721 M), adalah putra Singaperbangsa.
Raden Jayanegara (1721-1731 M), adalah Putra Wirasuta bergelar Adipati Panatayuda 2.
Raden Singanegara (1752-1786 M), adalah putera Jayanegara bergelar Adipati Panatayuda 4.
Para Adipati Karawang masa pemerintahan VOC, Inggris, Hindia Belanda, dan Jepang.
Raden Singasari (1786-1809 M), adalah menantu Singanegara bergelar Raden Adipati Aria Singasari.
Raden Aria Sastradipura (1809-1811 M), adalah putera Singanegara.
Raden Adipati Suryalaga (1811-1813 M), putera sulung Raden Adipati Suryalaga adalah adipati Sumedang.
Raden Aria Sastradipura (1811-1820 M), adalah putera Singanegara.
Raden Adipati Suryanata (1821-1829 M), adalah menantu Sastradipura.
Raden Adipati Suryawinata (1829-1849 M), adalah adik Suryanata.
Raden Muhammad Enoh (1849-1854 M), bergelar Raden Sastranegara.
Raden Adipati Sumadipura (1854-1863 M), putera Sastradipura, bergelar Raden Tumenggung Aria Sastradiningrat 1, beliau memerintahkan pembangunan pendopo, istana kabupaten dan Masjid Agung Purwakarta.
Raden Adikusumah (1883-1886 M), bergelar Raden Adipati Sastradiningrat 2.
Raden Surya Kusumah (1886-1911 M), putera Raden Adikusumah, bergelar Raden Adipati Sastradiningrat 3.
Raden Tumenggung Aria Gandanagara (1911-1925 M), adik Surya Kusumah, bergelar Raden Adipati Sastradiningrat 4.
Raden Adipati Aria Suryamiharja (1925-1942 M)
Raden Panduwinata (1942-1945 M), bergelar Raden Kanjeng Pandu Suriadiningrat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s