Bahasan Mengenai SARA dan bukan SARA

Sara adalah kepanjangan dari suku, agama, ras, dan golongan. Jika merujuk pada id.wikipedia maka merujuk pada diskriminasi, yaitu perlakuan terhadap seseorang yang mengarah pada tindakan diskriminasi. Hal ini penting di bahas karena aktivitas internet tentu berkaitan dengan ini. Sebagai contoh adalah pembahasan mengenai sejarah atau agama maka kita harus dapat membedakan mana yang menyangkut sara atau bukan sara. Maksudnya adalah ketika sedang asiknya bermain internet atau bersosial media tiba-tiba terjerat hukum, tentu sebuah kerugian.

Suatu hari dalam blog catatan angin sepoi pernah menuliskan bahwa UU Telekomunikasi dan UU Penyiaran di Indonesia masih menjadi aturan yang terpisah. UU Konvergensi Telematika harus bisa menggabungkan UU ITE, UU Telekomunikasi, dan UU Penyiaran menuju peraturan baru. Apasih RUU Konvergensi Telematika itu? Adalah sebuah rancangan, sepertinya belum diberlakukan, aturan setingkat undang-undang yang mengatur semua aspek meliputi spektrum dan kanal operator sebagai perusahaan penyedia layanan internet dengan sarat pulsanya masih mencukupi maka perusahaan ini masih bersedia melayani internet. Masyarakat sebagai pengguna internet, sebagai contoh pengguna facebook via ponsel. Dan facebook sebagai perusahaan penyelenggara internet.

Bahasan mengerucut pada sara dan bukan sara.
Media sosial menjadi sarana untuk menyampaikan ide-ide yang sedang berkembang dari masyarakat. Mulai dari percakapan ringan hingga persoalan yang rumit. Apakah isi dari media sosial itu benar atau layak dipercaya, terkadang pengguna menggunakan akun anonim. Masyarakat mendapat informasi dengan mudah walau pun diragukan kebenarannya, bahkan ada yang terkena hasutan hingga menyebabkan kerusuhan. Sudah banyak kejadian yang ditayangkan di televisi. Maka disinilah bahasan mengenai sara dan bukan sara.

Saya menyukai KH AbdurRahman Wahid, dengan membahas tentang SARA bahkan memberikan solusi dan membangun kebangsaan. Pembahasan tentang ini tentu oleh orang berilmu tinggi, bagi kita adalah bagaimana agar terhindar dari jeratan hukum.

Perkataan bermakna SARA, yaitu apabila perkataan tersebut berkonotasi negatif, atau tidak diterima karena benturan nilai seperti kasus Roma Irama. Menurut pengamatan dalam perkembangan berita, Roma Irama berada pada posisi benar karena berada di dalam mesjid sebagai penceramah.

Perkataan bermakna bukan SARA, apabila perkataan itu diterima oleh umum dalam perbincangan atau suatu bahasan, misalnya bertema agama, sosiologi, antropologi, tata negara dan kewarganegaraan.

Bahwa hukum itu disusun, dinilai, dimungkinkan diperbaharui dan disempurnakan.

Iklan

2 thoughts on “Bahasan Mengenai SARA dan bukan SARA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s