“…Bahasa Indonesia Pengikat Nasionalisme Negara…”

Ketika jepang meninggalkan indonesia, bung Hatta berkata, wilayah ada, penduduk ada, maka dirikanlah negara. Maka bung Karno menghimpun para pejuang untuk mendiskusikan mengenai ini. Menghasilkan UUD 45 sebagai landasan lembaga negara. Diproklamasikan dengan atas nama bangsa Indonesia. Diperjuangkan oleh segenap bangsa dalam mempertahankan kedaulatan negara. Itu adalah konteks awal kemerdekaan. Bagaimana dengan konteks sekarang dan bagaimana orientasi masa depan kita? Dalam hal ini ada ketentuan boleh dan tidak boleh dalam mempresentasikan masa depan, mungkin ada pengecualian seperti mempersiapkan anak kandung sebagai generasi penerus, menentukan arah langkah anak tersebut dalam menempuh cita-citanya, memperkirakan ledakan penduduk dan peta demografi berikut kendaraan yang beredar, memperkirakan laju pertumbuhan ekonomi, dan sebagainya. Dalam arti, orientasi masa depan sebagai bentuk politik yang sebenarnya, bagi negara dan bagi warga negara.

Lalu apa kaitannya dengan bahasa? Pembentukan Indonesia dan Malaysia berbeda karena alur sejarah, begitu juga dengan kaidah bahasanya. Karena itulah saya tertarik menuliskan pembentukan lembaga negara terlebih dahulu kemudian bahasa. Sempat menuliskan bertema bahasa indonesia dan saya baca kembali. Berikut ini adalah kutipannya.

Pada dasarnya melayu Indonesia dan melayu Malaysia merupakan satu suku yang sesungguhnya tidak berbeda, hanya karena penjajahanlah maka suku melayu terpisah. Penggunaan istilah indonesia menggantikan penggunaan istilah hindia belanda. Nama Indonesia semakin populer hingga menumbuhkan nasionalisme. Lahirlah sumpah pemuda, Indonesia menjadi identitas kebangsaan dari suku-suku bangsa dan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

 

 

 

NASIONALIS RAKYAT MERDEKA

"...Ilustrasi Peta yang Menggambarkan Wilayah Kedaulatan NKRI..." “…Ilustrasi Peta yang Menggambarkan Wilayah Kedaulatan NKRI…”

“…NRMnews.com – JAKARTA, Bahasa Indonesia merupakan benang pengikat dalam membangun nasionalisme Indonesia. Hal ini disampaikan Pakar Bahasa dari Institut Teknologi Bandung, Prof Mahsun.

“…Hal itu bisa dilihat dari kesadaran akan pengakuan atas kesatuan Tanah Air yaitu Tanah Air Indonesia, meskipun terdiri atas tidak kurang dari 17.508 pulau dan terdiri dari 659 suku bangsa. Suku-suku bangsa tersebut direkatkan dengan bahasa persatuan yakni Bahasa Indonesia…”, ujar Mahsun, di Jakarta, Rabu (23/12/2015).

Sebelumnya pada Selasa malam (22/12/2015), Mahsun meluncurkan bukunya ketiga belas yakni ” Indonesia dalam Perspektif Politik Kebahasaan “. Dia menambahkan para perekayasa bahasa melalui institusi kebahasaan pada kisaran 1970-an sampai 1988, banyak menyerap kosakata bahasa Jawa dan muncullah kritikan yang cukup pedas dengan lantang menolak dominasi bahasa Jawa.

“…Masyarakat menganggap terjadi proses penjawaan dalam bahasa Indonesia. Kritikan tersebut menggambarkan tolakan dominasi suku bangsa tertentu dalam membangun ke-Indonesiaan…”,

Lihat pos aslinya 247 kata lagi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s